Gangguan sistem IT dapat terjadi kapan saja. Server mengalami kerusakan, database corrupt, ransomware menyerang, jaringan terputus, atau data center mengalami gangguan. Bagi perusahaan yang menjalankan proses bisnis melalui aplikasi digital, beberapa menit downtime saja dapat menimbulkan kerugian yang signifikan.
Memiliki backup memang penting, tetapi backup saja belum tentu cukup. Perusahaan juga membutuhkan mekanisme untuk mengaktifkan kembali server, aplikasi, dan data ketika infrastruktur utama tidak dapat digunakan. Karena itu, Jasa Disaster Recovery as a Service atau DRaaS semakin banyak digunakan sebagai bagian dari strategi business continuity.
DRaaS memanfaatkan infrastruktur cloud sebagai lingkungan pemulihan sehingga perusahaan tidak harus selalu membangun data center disaster recovery sendiri. Bergantung pada desainnya, workload dapat direplikasi atau dicadangkan ke lingkungan recovery dan diaktifkan ketika terjadi gangguan. Solusi DR modern juga dapat membantu pemulihan dari lingkungan on-premise maupun cloud.
Bagi perusahaan di Indonesia, pemilihan layanan juga perlu memperhatikan keamanan, lokasi infrastruktur, kebutuhan data residency, SLA, serta kemampuan provider dalam melakukan monitoring dan DR drill.
Apa Itu Disaster Recovery as a Service?
Disaster Recovery as a Service (DRaaS) adalah layanan pemulihan infrastruktur IT yang menggunakan cloud sebagai bagian dari lingkungan disaster recovery dan dikelola oleh penyedia layanan.
Jika backup berfokus pada membuat salinan data, DRaaS memiliki cakupan yang lebih luas. Tujuannya adalah membantu perusahaan memulihkan workload penting agar operasional dapat kembali berjalan setelah terjadi gangguan. Konsep ini membuat DRaaS sangat relevan untuk aplikasi dan server yang bersifat mission-critical.
Layanan DRaaS dapat mencakup:
- Replikasi server atau virtual machine.
- Backup data dan aplikasi.
- Penyediaan cloud recovery site.
- Monitoring sistem.
- Failover dan failback.
- Disaster recovery drill.
- Pengelolaan RTO dan RPO.
- Recovery database.
- Dukungan teknis.
- Dokumentasi dan runbook recovery.
Dengan model layanan, perusahaan dapat memperoleh kemampuan disaster recovery tanpa harus mengelola seluruh komponen recovery secara mandiri.
Mengapa Perusahaan Membutuhkan Jasa DRaaS?
Ketergantungan terhadap sistem digital terus meningkat. Aplikasi ERP, CRM, database transaksi, sistem pembayaran, platform e-commerce, dan aplikasi internal menjadi bagian penting dari kegiatan sehari-hari.
Ketika sistem tersebut berhenti, dampaknya dapat meluas ke berbagai bagian bisnis.
Mengurangi Dampak Downtime
Downtime dapat menyebabkan transaksi gagal, karyawan tidak dapat bekerja, pelanggan kehilangan akses layanan, dan proses operasional terhenti.
DRaaS membantu perusahaan menyiapkan prosedur pemulihan sehingga sistem tidak harus dibangun ulang dari awal ketika terjadi gangguan.
Menghadapi Kegagalan Hardware
Server dan storage memiliki umur operasional serta kemungkinan mengalami kegagalan. Jika workload telah disiapkan untuk recovery di cloud, perusahaan memiliki alternatif ketika perangkat produksi mengalami masalah.
Mengantisipasi Ransomware
Ransomware dapat membuat server dan data tidak dapat digunakan. DR strategy yang baik perlu mempertimbangkan recovery point sebelum data mengalami kerusakan atau terenkripsi. AWS juga menekankan bahwa rencana recovery untuk insiden keamanan perlu mempertimbangkan titik pemulihan sebelum terjadinya korupsi data.
Mengurangi Ketergantungan pada Satu Data Center
Jika sistem produksi dan recovery berada di lingkungan yang sama, satu insiden dapat berdampak pada keduanya. Menempatkan recovery environment secara terpisah membantu meningkatkan ketahanan infrastruktur.
Mendukung Business Continuity
Tujuan akhir DRaaS bukan hanya mengembalikan server, tetapi membantu perusahaan mempertahankan fungsi bisnis penting setelah terjadi gangguan.
Bagaimana Cara Kerja Jasa Disaster Recovery as a Service?
Implementasi DRaaS biasanya dilakukan melalui beberapa tahapan.
1. Assessment Infrastruktur
Penyedia jasa memetakan infrastruktur perusahaan untuk mengetahui workload mana yang harus dilindungi.
Assessment dapat mencakup:
- Server fisik.
- Virtual machine.
- Database.
- Aplikasi bisnis.
- Storage.
- Network.
- Dependensi antar-aplikasi.
- Kapasitas data.
- Tingkat kritikalitas workload.
Tahap ini penting karena tidak semua server membutuhkan strategi recovery yang sama.
2. Menentukan RTO dan RPO
Dua parameter penting dalam disaster recovery adalah Recovery Time Objective (RTO) dan Recovery Point Objective (RPO).
RTO menentukan berapa lama sistem boleh tidak tersedia setelah terjadi gangguan. RPO menentukan seberapa banyak kehilangan data yang masih dapat diterima berdasarkan waktu pemulihan terakhir.
Contohnya, aplikasi transaksi mungkin membutuhkan RTO dan RPO yang jauh lebih ketat daripada server arsip.
3. Menentukan Strategi Recovery
Strategi recovery dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran perusahaan.
Beberapa pendekatan yang umum adalah:
- Backup and Restore: sistem dipulihkan dari backup ketika terjadi gangguan.
- Pilot Light: komponen inti tertentu telah tersedia di environment recovery.
- Warm Standby: lingkungan DR tetap berjalan dengan kapasitas tertentu.
- Active-Active: dua lingkungan dapat beroperasi secara aktif.
Semakin rendah target downtime dan kehilangan data, biasanya semakin tinggi kompleksitas serta kebutuhan infrastrukturnya.
4. Replikasi atau Backup
Data dan workload dikirim ke environment DR sesuai strategi yang telah ditentukan.
Untuk workload yang membutuhkan RPO rendah, replikasi dapat dilakukan lebih sering atau secara berkelanjutan. Sementara workload dengan kebutuhan recovery lebih longgar dapat menggunakan backup terjadwal.
5. Monitoring
Sistem perlu dipantau untuk memastikan replikasi, backup, storage, konektivitas, dan environment recovery tetap dalam kondisi baik.
Monitoring juga membantu mendeteksi kegagalan lebih awal sebelum perusahaan benar-benar membutuhkan recovery.
6. Failover
Ketika terjadi gangguan, workload dapat dialihkan ke environment DR sesuai prosedur.
Failover harus memiliki urutan yang jelas, terutama jika satu aplikasi memiliki banyak dependensi seperti database, application server, DNS, network, dan authentication service.
7. Failback
Setelah sistem utama kembali normal, workload dapat dikembalikan ke environment produksi.
Failback perlu direncanakan dengan hati-hati agar sinkronisasi data tetap konsisten dan downtime tambahan dapat diminimalkan.
Keunggulan Jasa Disaster Recovery as a Service
Menggunakan DRaaS memberikan sejumlah keuntungan bagi perusahaan.
Tidak Harus Membangun DR Site Sendiri
Membangun data center DR membutuhkan server, storage, jaringan, listrik, pendingin, keamanan, lokasi, dan tenaga ahli.
Dengan DRaaS, sebagian kebutuhan tersebut dapat disediakan melalui layanan cloud.
Lebih Fleksibel
Resource recovery dapat disesuaikan dengan jumlah workload yang perlu dilindungi. Perusahaan juga dapat meningkatkan kapasitas ketika sistem dan data bertambah.
Mendukung Recovery yang Lebih Cepat
Desain DR yang tepat dapat mempercepat proses pemulihan dibandingkan membangun ulang infrastruktur secara manual. Beberapa platform cloud bahkan mendukung recovery dalam hitungan menit, bergantung pada konfigurasi dan target yang digunakan.
Mengurangi Beban Tim IT
Penyedia layanan dapat menangani monitoring, konfigurasi, pemeliharaan, dan pengujian sesuai ruang lingkup layanan.
Mendukung Disaster Recovery Drill
DR drill membantu memastikan prosedur pemulihan benar-benar dapat dijalankan. Pengujian berkala juga dapat mengungkap masalah konfigurasi sebelum insiden nyata terjadi.
Mendukung Business Continuity
DRaaS dapat menjadi bagian dari business continuity plan dengan menyediakan mekanisme pemulihan untuk workload yang paling penting bagi operasional.
Perbedaan Backup, Disaster Recovery, dan DRaaS
Ketiga istilah ini sering digunakan secara bergantian, padahal memiliki fungsi berbeda.
Backup berfokus pada membuat salinan data agar dapat dipulihkan ketika data utama hilang atau rusak.
Disaster Recovery mencakup strategi, proses, teknologi, dan prosedur untuk mengembalikan sistem setelah gangguan.
DRaaS adalah model penyediaan layanan disaster recovery dengan memanfaatkan infrastruktur cloud dan dukungan provider.
Artinya, backup dapat menjadi bagian dari DRaaS, tetapi DRaaS memiliki cakupan lebih luas daripada sekadar backup.
Faktor Penting Saat Memilih Jasa DRaaS
Memilih provider sebaiknya tidak hanya berdasarkan kapasitas storage dan harga.
Periksa Target RTO dan RPO
Pastikan target recovery yang ditawarkan sesuai kebutuhan aplikasi bisnis. RTO dan RPO merupakan dasar dalam menentukan arsitektur DR yang tepat.
Perhatikan Lokasi Data Center
Untuk perusahaan di Indonesia, lokasi infrastruktur dapat menjadi pertimbangan penting, terutama ketika perusahaan memiliki kebijakan internal atau kebutuhan terkait data residency.
Pastikan Ada DR Drill
Tanyakan apakah provider menyediakan pengujian failover secara berkala dan apakah hasil pengujian didokumentasikan.
Evaluasi SLA
SLA harus menjelaskan availability, dukungan teknis, target layanan, tanggung jawab provider, serta prosedur eskalasi ketika terjadi insiden.
Perhatikan Keamanan
DR environment harus memiliki kontrol akses, enkripsi, monitoring, segmentasi jaringan, serta mekanisme perlindungan terhadap akses tidak sah.
Pastikan Ada Failback Plan
Recovery tidak selesai ketika server berhasil aktif di cloud. Provider harus memiliki prosedur untuk mengembalikan workload ke lingkungan produksi secara aman.
Tips Menerapkan DRaaS di Perusahaan
Sebelum menggunakan layanan, perusahaan dapat melakukan beberapa langkah berikut:
- Identifikasi aplikasi dan server yang paling kritis.
- Lakukan Business Impact Analysis.
- Tentukan RTO dan RPO setiap workload.
- Petakan hubungan antara aplikasi, database, dan network.
- Tentukan strategi recovery yang sesuai.
- Pisahkan environment produksi dan DR.
- Terapkan kontrol akses dan enkripsi.
- Dokumentasikan prosedur failover dan failback.
- Lakukan DR drill secara berkala.
- Evaluasi hasil pengujian dan perbarui disaster recovery plan.
Perusahaan juga perlu memastikan konfigurasi environment DR tetap mengikuti perubahan di sistem produksi. Configuration drift dapat menyebabkan recovery gagal ketika environment tersebut benar-benar dibutuhkan. Praktik cloud DR yang baik mencakup pengelolaan konfigurasi dan pengujian failover secara rutin.
Siapa yang Cocok Menggunakan Jasa DRaaS?
DRaaS cocok untuk perusahaan yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap sistem IT, terutama:
- Perusahaan finansial.
- E-commerce.
- Manufaktur.
- Retail.
- Rumah sakit.
- Perusahaan logistik.
- Perusahaan teknologi.
- Institusi pendidikan.
- Penyedia layanan digital.
- Perusahaan dengan aplikasi mission-critical.
DRaaS juga dapat menjadi pilihan bagi perusahaan yang belum memiliki anggaran atau sumber daya untuk membangun data center disaster recovery secara mandiri.
Kesimpulan
Jasa Disaster Recovery as a Service membantu perusahaan mempersiapkan lingkungan pemulihan untuk menghadapi kegagalan server, ransomware, human error, gangguan data center, dan berbagai kondisi yang dapat menyebabkan downtime.
Keunggulan DRaaS terletak pada kombinasi teknologi cloud, backup atau replikasi, monitoring, failover, failback, dan dukungan operasional. Dengan pendekatan yang tepat, perusahaan dapat mengurangi waktu pemulihan sekaligus meningkatkan ketahanan sistem.
Namun, keberhasilan DRaaS tidak hanya ditentukan oleh teknologi. Penetapan RTO dan RPO, pemilihan arsitektur, keamanan, dokumentasi, serta DR drill harus menjadi bagian dari strategi yang terintegrasi.
Bagi perusahaan yang ingin meningkatkan business continuity tanpa membangun seluruh infrastruktur recovery dari nol, DRaaS dapat menjadi pilihan yang fleksibel, scalable, dan lebih mudah dikelola.
FAQ
Apa itu Jasa Disaster Recovery as a Service?
Jasa Disaster Recovery as a Service adalah layanan pemulihan sistem IT menggunakan infrastruktur cloud sebagai environment disaster recovery yang dapat dikelola dan dipantau oleh provider.
Apa perbedaan DRaaS dengan cloud backup?
Cloud backup berfokus pada penyimpanan salinan data, sedangkan DRaaS mencakup proses dan infrastruktur untuk memulihkan workload agar dapat kembali beroperasi.
Apa itu RTO dan RPO?
RTO adalah target waktu pemulihan sistem setelah gangguan, sedangkan RPO adalah batas kehilangan data yang dapat diterima berdasarkan titik pemulihan terakhir.
Apakah DRaaS dapat digunakan untuk menghadapi ransomware?
Ya, DRaaS dapat menjadi bagian dari strategi menghadapi ransomware. Namun, recovery point, isolasi backup, kontrol akses, dan keamanan environment DR harus dirancang dengan baik.
Apakah perusahaan kecil membutuhkan DRaaS?
Perusahaan kecil juga dapat membutuhkan DRaaS jika memiliki aplikasi atau database yang sangat penting bagi operasional. Layanan cloud memungkinkan implementasi disesuaikan dengan kebutuhan.
Apakah DRaaS harus diuji secara berkala?
Ya. DR drill penting untuk memastikan prosedur failover benar-benar dapat dijalankan dan target RTO/RPO dapat dicapai.


